Kerutan di Wajah Ayah

Kasih sayang orang tua terhadap anaknya lebih besar dari apapun. Si Bungsu kala ittu berusia 19 tahun sudah sangat menyadari betapa berartinya cinta kasih seorang ayah dan ibu yang telah menua. Bungsu yang sedang menempuh pendidikan di luar kota sadar akan kerinduan yang mendalam kepada ayah dan ibu. Mereka mencurahkan segala apa yang ada dalam dirinya demi kebahagiaan anaknya. Ibu memberi kasih sayang yang tak terhingga lewat lagu-lagu pengantar tidurnya, lewat masakan-masakan yang disuguhnya, lewat peluhnya yang membesarkan buah hatinya, lewat hangat tangannya memeluk anaknya yang tengah bersedih, lewat tatapan matanya yang begitu tulus mengasihi anaknya, dan lewat segala yang dia berikan.

Ayah memberikan kasih sayang yang tak terhingga, menjaga anak dan keluarganya, membanting tulang hingga mampu memberi makan anak dan istrinya. Menantang panas dan dingin untuk mereka. Dia melakukan tak hanya sebatas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, tapi selain itu, dia melakukannya karena dasar kasih sayang yang teramat dalam terhadap anak dan istrinya.

Si Bungsu lama tak kunjung pulang ke rumah meskipun ditelpon berkali-kali oleh ayahnya namun alasan tugas dan kewajiban kuliah tidak bisa ditinggalkan. Akhir pekan di rencanakan oleh Bungsu untuk pulang ke rumah. Ayah di rumah sangat lega mendengar kabar bahwa anaknya akan pulang. Entah mengapa ayah sangat menginginkan si bungsu pulang. Naik kereta lebih dipilih bungsu karena lebih cepat dan efisien waktu. Saat masih di Semarang perasaannya sangat cemas tidak biasanya dia pulang dengan rasa cemas namun perasaan itu diabaikannya. Tidak punya banyak waktu si Bungsu untuk turun ke stasiun, dia meminta tolong kepada temannya untuk mengantarkan ke stasiun. Sayangnya pada hari itu bertepatan hari jadi Kota Semarang, seluruh wilayah Semarang terjadi kemacetan. Si Bungsu sangat panik dia hanya memunyai sedikit waktu untuk sampai ke stasiun jika dia kehabisan waktu pasti terlambat dan kereta sudah berangkat. Dia mendesak kepada temannya bagaimana caranya agar terhindar dari kemacetan. Untung diraih si Bungsu karena temannya anak Semarang jadi dia tahu seluk beluk jalanan kota Semarang. Dengan sigap dan kelihaian berkendara mencari jalan alternatif si Bungsu dan temannya sampai di stasiun. Rasa terima kasih yang amat besar disampaikan kepada temannya yang sangat baik itu.

Si Bungsu lalu bergegas berlari menuju tempat pengecekan tiket namun gerbang pintu masuk kereta telah ditutup. Si Bungsu memohon kepada Pak satpam yang sedang berbaris untuk memberikan kesempatan masuk ke gerbong kereta. Melihat si Bungsu yang kasihan Pak satpam tak tega melihatnya dan membolehkannya untuk masuk. Si Bungsu berlari masuk ke gerbong kereta. Dia berjalan dari gerbong ke gerbong mencari nomor gerbong dan nomor tempat duduk. Nampak si Bungsu sangat lelah namun kelelahan itu tak seberapa dibandingkan rasa rindunya kepada ayah. Dua jam lebih perjalanan dilalui dengan hati yang tak tenang. Akhirnya sampai juga di stasiun akhir kota kelahiran si Bungsu. Tak sabar ia menuju pintu keluar mengetahui kalau ayahnya sudah menunggu di parkiran. Namun tak disangka dari kejauhan si Bungsu melihat ayahnya yang tengah menunggu di pintu keluar. Dilihatnya ayah sedang mencari dirinya. Semangat si Bungsu langsung menyerobot dari antrian dan desakan orang-orang. Bertemulah si Bungsu dengan ayahnya. Dipeluklah sang anak dengan penuh kasih sayang kerinduan ayah yang terobati. Ayah yang membisikan di telinga si Bungsu bahwa ayah sangat rindu dan tak mau melepaskan pelukan, si Bungsu pun menjawab hal yang sama bahwa dia sangat rindu kepada ayah. Senyum yang tak pernah lepas menandakan dirinyalah yang sangat bahagia memiliki seorang ayah yang sangat hebat. Namun baru berjalan lima meter menuju mobil ayah memegang dada kesakitan dan tak mampu berjalan. Tangan dan kaki si Bungsu gemetaran seakan kebahagian terlepas darinya, dia menopang sang ayah lalu memanggil ibu dari kejauhan. Ayah meminta untuk berbaring sementara di depan kios. Si Bungsu dan ibunya sangat panik dan histeris melihat ayahnya kesakitan di dadanya. Lalu ada seorang pemuda yang berkenan untuk mengantarkan ayahnya ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan menuju rumah sakit si Bungsu membantu sang ayah mengucapkan lafadz Allah dan beristighfar. Sampai di rumah sakit ayahnya tidak sadarkan diri langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat. Si Bungsu tak tega dan hampir pingsan melihat ayahnya sedang dipacu jantung. Dia hanya berdoa agar ayahnya dapat terselamatkan dan diberi keajaiban oleh Allah. Takdir berkata lain hati dan jiwanya hancur mendengar ayahnya tak tertolong. Tubuh si Bungsu tergeletak harapannya telah sirna. Imajinasi yang bahkan indah berkumpul bersama keluarga telah lenyap. Kesedihan dan suasana berkabung menyelimuti keluarga yang ditinggalkan. Si Bungsu hanya terdiam melihat ayahnya yang tak bernyawa. Melihat untuk terakhir kalinya kerutan di wajah ayah, mengusapnya penuh kesedihan berat untuk melepaskan dan mencium kening serta menghirup harum aroma tubuh ayah.

Iklan

4 pemikiran pada “Kerutan di Wajah Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s