Jejak Islam Dalam Tarian Nusantara

Perkembangan kebudayaan di Indonesia telah mengalami proses akulturasi adaptif yang begitu panjang. Setelah Indonesia (yang saat itu bernama Nusantara) sempat menjadi pusat peradaban Hindu-Buddha terbesar di Asia, manakala peradaban Islam muncul, proses adaptasi kebudayaan kembali mengalami perubahan. Antara lain dalam wujud seni tari.

Jenis-jenis seni tari yang bernafaskan keIslaman mulai berkembang di pulau-pulau yang tak banyak mendapat pengaruh Hindu, dan di daerah pedesaan yang berada di pesisir pantai.

 

Seni Tari Bernafaskan Islam di Sumatera

Perkemangan seni tari di daerah Sumatera banyak dipengaruhi budaya Islam. Padahal, dalam sejarah, Sumatera pernah menjadi pusat Kerajaan Budha yang sangat besar, yakni Kerajaan Sriwijaya. Budaya Islam yang berkembang di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, memudarkan budaya Budha yang berkembang cukup baik di Kerajaan Sriwijaya. Pada gilirannya, tari di Sumatera dibedakan ke dalam beberapa gaya, antara lain gaya Aceh, gaya Sumatera Utara, gaya Sumatera Barat, gaya Sumatera Tengah, dan gaya Sumatera Selatan.

Tari gaya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, banyak menggunakan tempo yang agak cepat dan kualitas gerak agak patah-patah (staccato). Sedang tari gaya Sumatera Tengah dan Selatan menggunakan tempo agak lambat, dan kualitas bentuk gerak tidak patah-patah namun mengalun (legato).

Ciri-ciri tari di Sumatera yang banyak mendapat pengaruh budaya Islam, yakni:

  1. Penggunaan tungkai dengan posisi tertutup.
  2. Angkatan lengan tidak tinggi.
  3. Tidak ada posisi tangan yang berciri khas Hindu (nyempurit, nyekithing, dsb)
  4. Tidak ada gerak-gerak kepala yang khas.
  5. Tidak ada konsep berdasarkan karakterisasi dalam gerak.
  6. Tema cerita bernafaskan Islam.

Tari tradisional bernafaskan keIslaman yang ternama di Sumatera seperti Tari Seudati, Tari Saman, Tari Randai, Tari Indang, Tari Selendang, Tari Tor-Tor, dan Tari Lilin atau Piring.

 

Seni Tari Bernafaskan Islam di Jawa

Setelah Majapahit jatuh, muncullah Kerajaan Demak Bintara yang diusung oleh Walisongo. Para wali inipun memegang peran penting di dalam pengembangan budaya. Dakwah merekapun dilakukan melalui jalur seni budaya. Maka tak heran jika para wali tersebut selain sebagai penyebar agama, juga sebagai budayawan.

Selain menciptakan tembang-tembang Macapat dan melakukan modifikasi cerita pewayangan, para wali juga menciptakan Tari Wireng dan Tari Lawung. Pada masa Kerajaan Demak Bintara, Tari Wireng dan Tari Lawung mendapat pembinaan cukup baik.

Adapun puncak pengaruh Islam terhadap pengembangan budaya nampak lebih kuat setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755. Berkembanglah kemudian dua etnis budaya yang kuat dan memiliki ciri tersendiri yakni Kasunanan dan Kasultanan.

Di kalangan masyarakat saat itu berkembang tarian yang bernafaskan keIslaman seperti Kuda Kepang, Emprak, Rodat (seperti Seudati di Aceh), Terbang Jidhur, Slawatan, dan lain-lain.

Demikianlah, berbagai bukti tersebut telah menunjukkan jika pengaruh kebudayaan Islam sungguh kuat dan mampu berkembang ke kesenian di kalangan istana.

 

Fadhil Nugroho

Sumber: Suara Merdeka edisi 17 Juni 2015

Jejak Islam Dalam Tarian Nusantara

Iklan

10 pemikiran pada “Jejak Islam Dalam Tarian Nusantara

  1. Islam memberi warna tersendiri dan memperkaya kekhasan tarian bahkan budaya Nusantara yang lain. Membuktikan bahwa Islam dapat diterima dan dapat merangkul segala peebedaan dan keberagaman.

    Kunjungi, follow, dan komen berkualitas di jeritsajak.wordpress.com :Dv

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s